Saya dijemput untuk menjadi salah seorang pembicara di dalam Workshop on UN Counter Terrorism anjuran NahdatulUlamadanCenter on Global Counterterrorism Cooperation di The Sultan Hotel, Jakarta dari 18 -19 November 2009.
Apabila sampai di Lapangan Terbang atau Bandara (Bandar Udara) Soekarno-Hatta, saya akan ditunggu oleh petugas Nahdatul Ulama yang akan mempamirkan nama Nahdatul Ulama di ruang menunggu. Begitulah arahan yang di terima.
Sampai di ruang menunggu, tiba –tiba saya di sapa oleh seseorang yang menyebut nama Nahdatul Ulama. Langsung saya mengenalkan diri yang saya adalah tetamu Nahdatul Ulama. Beliau tidak membawa sepanduk N.U.
Lantas saya dibawa ke tempat letak kereta dan sebuah van menunggu. Saya diminta untuk membayar 270,000 Rupiah (bersamaan RM100) untuk ke hotel. Saya protes. Kata Andi, yang menyambut saya tadi,petugas N.U. tak dapat datang kerana banjir, katanya. Dia datang membantu, tetapi kena bayar dulu, resitakandi keluarkan untuk tuntutan dengan Penganjur.
Sah! Aku dah tertipu kali ni. Begitulah perasaan yang sedang bergejolak marah. Van dah di hidupkan, bagasi dah diletak dalam but, hari dah malam. Jakarta memang hujan waktu tu.
Saya pasrah kerana tidak mahu bertengkar. Saya bayar 270,000 Rupiah. Andi tersenyum gembira.
Kemudian dia bertanyakan samada saya hendak ‘stick-pendek’. Saya bingung! ‘Stick-pendek? Apa itu, Pak?
Ya….. ma’af Pak. Banyak Dato-Dato dari Malaysia mencarinya…..! Muda-muda Pak…….!
Baru saya faham maksudnya………. Saya beristighfar banyak-banyak.
Dipendekkan cerita, saya mengadukan hal saya tertipu ini kepada pihak Penganjur keesokkan harinya.
Mereka menjelaskan, petugas N.U. memang menunggu saya selama hampir 1 jam tetapi tak berjumpa. Rasanya, si Andi melihat sepanduk N.U. lantas dia berjaya memintas dengan mencari tetamu N.U. sebelum tetamu tersebutsempat bertemu dengan petugas yang sebenar. Licik sungguh si Andi tu…..
Di lain kesempatan, ketika di dalam teksi Blue Bird ke Toko Buku WaliSongo, kedai buku kegemaran saya di Jakarta, saya menanyakan pemandunya akan tambang teksi bermeter dari Bandara ke Hotel Sultan. Katanya paling lumayan 150,000 Rupiah…..Mendengar itu saya beristighfar lagi……..
Walaupun saya ini bolehlah di anggap sebagai ‘seasoned traveller’, tapi boleh kena tipu juga.
Berhati-hatilah. Di Jakarta sekarang sudah banyak teksi yang bermeter. Untuk selamat, naik saja lah teksi yang bermeter.
A 15 minutes presentation in a workshop organized by Nahdatul Ulama, Indonesia and Center on Global Counterterrorism Cooperation United Nation, Held from 18-19 November 2009 at Hotel Sultan Jakarta, Indonesia.
Stimulating and Facilitating More Interaction between Civil Society and Intergovernmental Bodies on the Implementation of the UN Strategy and other Counter terrorism Measures
1. I wish to thank the Organizer for inviting me and giving the opportunity to participate in this workshop. Spirit of engagement is important in solving any conflict that may arise in this world
2. Future Global Network is an NGO that advocate global peace and justice. The main advocacy work that we are doing is focusing on unresolved conflict that still lingers 50 years i.e. conflict in Palestine, Kashmir, Southern Thailand, Southern Philippines. My involvement in another NGO, International Movement for a JUST World is somewhat related.
3. In my presentation, I wish to highlight 3 points that are related to this workshop. Some of the points could be redundant since this is the last session. Before doing that, let me express my views on some of the issues that was raised in the last few sessions. I think it is important in the spirit of engagement and recognizing especially the major Muslim Organizations throughout the world.
We have to careful in using the terminology “Jihadist” in labeling the suicide bombers. In Islam Jihad means striving your best to become better Muslim. Without Jihad, Islam has no spirit, no soul.
Next, terrorism perpetrated by individual or groups in a respond to State-terrorism. Therefore state terrorism should be central in the definition.
Then, whatever plan of action that we want to develop at local level or national level should not be detached from global perspectives.
4. First point, the Impact of Globalization. One of the impacts of Globalization is Information Explosion through Internet Communication Technology and the Media. What is happening in any corner of the world can be easily accessible by everybody, as long as they are connected by the internet, or phone, or by TV.
5. What are the consequences of this information explosion? It means, the war in Gaza, the images coming out from it, the bombing, the killing, maimed children, charred bodies, the suffering of the Palestinian, the Wall the isolate the Palestinian from the Israelis, the new settlement in the West Bank all of the images in TV, the information via internet, e-mail and phones, are all accessible to the world. The Muslim youths are affected psychologically, spiritually. What are the Muslim worlds doing for the Palestinian for the past 60 years? What is the U.N doing? Why it allow Israel to violate all the U.N Resolution to stop any form of violence and aggression? Why the U.S consistently use the veto power to protect the Israelis aggression?
6. As the consequences of this injustices the feeling of wanting to do something on their own has developed into what we call today “ Terrorism”
The target is Western interest. The bombing of Marriot Hotel, Ritz Carlton in Jakarta recently is definitely sending a message to the American. Suicide-bombing is the weapon of the weak. But definitely the impact is tremendous.
Second Point.
7. Terrorism can be stopped. If not immediately, at least towards reducing it. 7.1 Stop the Afghanistan war 7.2 Stop the Iraq war 7.3 Stop the Palestinian war 7.4 Reform the U.N structure to be more democratic. Abolish the veto power. 7.5 Criminalize any war. These who starts any war, should be treated as murderer, criminal. 7.6 Review the Terrorist Lists. Those genuine NGO should be de-listed, and allow to function.
My third point will be the recommendation to the workshop
8.0 Recommendation 8.1 Structural Strategy 8.1.1 Global Network 8.1.2 Regional Network 8.1.3 National Network
8.2 Value System Strategy 8.2.1 Spirit of Engagement 8.2.2 Spirit of Pluralism 8.2.3 Spirit of Inclusivism
Terorisme muncul, salah satunya sebagai sebuah reaksi terhadap ketidakadilan dan kesewenang-wenangan Barat pada dunia Islam. Perang yang dilakukan Amerika Serikat terhadap Irak, Afghanistan, atau perang terhadap Palestina oleh Israel yang disokong Barat, merupakan salah satu contoh nyata.
Karena itu, usaha menghentikan terorisme, juga harus dilakukan dengan menghentikan perang terhadap Irak, Afghanistan, Palestina, dan lain-lain. Jika tidak, reaksi yang berbentuk perlawanan atas ketidakadilan itu akan terus berkembang. Dan terorisme tidak mungkin bisa dihentikan tanpa menghentikan perang di kawasan tersebut.
Lontaran itu dikemukakan Ahmad Azam Abdul Rahman, Ketua Future Global Network Foundation—lembaga nonpemerintah yang berpusat di Kuala Lumpur, Malaysia —dalam paparannya pada workshop internasional bertajuk “Meningkatkan Kesadaran Masyarakat Sipil di Asia Tenggara terhadap Strategi Global Penanggulangan Terorisme” di Hotel Sultan, Jakarta, Kamis (19/11) kemarin.
“Stop perang Afghanistan, stop perang Irak, stop perang Palestina, maka akan menghentikan gerakan ekstrem yang menyerang Amerika Serikat dan negara-negara Barat lain,” ujar Azam pada workshop yang diselenggarakan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) bekerja sama dengan Center on Global Counter-terrorism Cooperation—lembaga nonpemerintah berpusat di Washington DC, Amerika Serikat, itu.
Azam menambahkan, kekerasan terhadap ‘anak-anak’ Palestina dan lain-lain, jelas memancing kemarahan pihak-pihak tertentu, terutama sesama muslim. Publikasi di media massa atas kekerasan itu cukup membantu membangkitkan kemarahan.
Hal senada disampaikan Ketua PBNU, Masykuri Abdillah. Menurutnya, terorisme tidak mungkin berakhir jika perang Afghanistan, Irak, Palestina, dan lain-lain, terus berlanjut.
Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), sebagai lembaga yang memiliki kewenangan menciptakan perdamaian dunia, harus sungguh-sungguh menjalankan tugasnya. Beragam resolusi yang dikeluarkan lembaga itu atas konflik di sejumlah negara, sering kali tidak efektif dalam tataran penerapannya.
“Resolusinya bagus, tapi dalam implementasinya, PBB sering tidak bisa berbuat banyak. Seperti resolusi atas konflik Palestina dengan Israel, yang sampai hari ini implementasinya masih tidak adil, berat sebelah,” terang Masykuri.
Ia menambahkan, PBB juga bisa mencontoh metode penanggulangan terorisme atau penyelesaian konflik yang dilakukan di Asia Tenggara, khususnya di Indonesia, yang melibatkan unsur masyarakat sipil. Sebab, penyelesaian konflik atau penanggulangan terorisme di Asia Tenggara tidak sampai berkembang menjadi perang seperti halnya yang terjadi di Irak, Afghanistan atau Palestina.
Diplomasi non-pemerintah
Selain itu, penting pula dikembangkan second track diplomacy atau jalur diplomasi nonpemerintah. Hal ini tugas masyarakat sipil atau organisasi kemasyarakatan-keagamaan, meski tetap harus dibantu atau difasilitasi pemerintah.
“Jalur ini bisa dilakukan organisasi kemasyarakatan-keagamaan dan unsure pemerintah bekerja sama dengan jaringan global atau regional,” kata Cellito Arlegue, Ketua Institute for Strategic and Development Studies—organisasi non-pemerintah berpusat di Manila, Filipina.
Menurut Cellito, metode ini penting untuk mengatasi kebuntuan proses diplomasi yang dilakukan antar-pemerintah. Sebab, katanya, diplomasi pemerintah tidak bisa dilakukan pada semua bidang atau unsur karena terkendala, misal, prosedur atau aturan perundang-undangan masing-masing pemerintah.
Negara Muslim harus Miliki Veto di PBB Jumat, 20 November 2009 12:34
Jakarta, NU Online
Untuk menumbuhkan keseimbangan dalam kekuatan global, salah satu pemegang hak veto dalam dewan keamanan PBB harus mencerminkan kekuatan dari negara muslim yang saat ini populasinya mencapai 25 persen di dunia.
Hal ini disampaikan oleh Ahmad Azam Abdul Rahman, direktur Future Global Network Foundation Kuala Lumpur disela-sela acara workshop strategi kontra terorisme yang diselenggarakan PBNU di Jakarta, Kamis (19/20).
Representasi Negara ini sangat penting karena selama ini, negara muslim yang paling sering dirugikan dalam berbagai percaturan global dan tidak bisa berbuat banyak karena tidak memiliki suara yang menentukan. Upaya menyatukan suara dunia Islam melalui OKI sejauh ini juga tidak efektif karena suaranya seringkali tidak satu.
Ia mengaku cukup sulit untuk mewujudkan gagasannya ini karena negara yang saat ini berkuasa di dewan keamanan PBB tidak akan dengan senang hati membagi kekuasaannya pada fihak lain. Lima pemiliki hak veto merupakan para pemenang dalam perang dunia ke II.
“Perlu dilakukan reformasi di PBB dan yang paling getol menyuarakan saat ini adalah negara-negara Amerika Latin, kita juga harus ikut mendorongnya,” tandasnya.
Mengenai negara mana yang paling layak memegang hak veto, Azam memberi criteria, yaitu negara yang memiliki komunitas muslim besar, stabil secara politik dan memiliki demokrasi. Dalam hal ini Indonesia dan Turki bisa menjadi kandidat mewakili dunia Islam.
1. Sejak memasuki abad 21 yang setahun lagi genap satu dasawarsa, dunia Islam nampaknya belum lagi menunjukkan tanda-tanda untuk bangkit sebagai kuasa dunia yang disegani sebagaimana yang pernah dikecapinya dari Abad ke 7 hinggalah ke Abad 19. Malah satu demi satu Negara Islam dilanda konflik samada dengan Negara Barat atau sesama sendiri.
2. Konflik yang berlaku di dunia Islam adalah akibat faktor luaran dan dalaman. Faktor luaran adalah campurtangan kuasa luar untuk tujuan penjajahan dan penaklukan seperti yang berlaku di Afghanistan dan Iraq. Faktor dalaman pula ialah akibat kelemahan sistem pemerintahan kerajaan Islam sendiri dan kelemahan para pemimpinnya. Namun kedua faktor ini adalah saling kait mengait antara satu sama lain.
3. Selepas berlakunya peristiwa serangan September 11, 2001 ke atas Twin Towers, New York, Amerika Syarikat telah melancarkan strategi ‘Hard War’ dan ‘Soft War’ terhadap dunia Islam. ‘Hard War’ bermaksud menjajah Negara Islam melalui peperangan, sedangkan ‘Soft War’ ialah melancarkan perang secara halus seperti penjajahan fikiran dan budaya.
4. Di sini saya akan menumpukan kepada strategi ‘Soft War’ yang dilancarkan bagi melemahkan dunia Islam. Strategi ini ternyata memberi kesan yang parah kepada umat Islam. Al Quran secara jelas menegaskan akan permusuhan penganut Keristian dan Yahudi terhadap orang Islam sebagaimana ayat berikut: “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakan lah, “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemahuan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” ( Al Baqarah 2:120)
5. Namun demikian, sebarang serangan luar tidak akan mampu untuk melemahkan umat Islam. Justeru itu serangan ditumpukan untuk memecahbelahkan umat Islam disegi politik, pemikiran dan budaya. Maknanya, serangan secara halus ke batang tubuh umat dilancarkan secara besar-besaran.
6. Di segi politik, Richard Nixon, Mantan Presiden Amerika Syarikat telah membahagi dunia Islam kepada 4 blok iaitu Blok Turki, Blok Arab, Blok Melayu dan Blok Indo-Pak sebagaimana di dalam bukunya, ‘Seize the Moment’. Katanya dengan memastikan pemimpin politik di 4 blok ini kita pastikan boneka kita, maka dunia Islam akan terus dapat dikuasai. Katanya lagi, mereka hanya perlu memastikan pemimpin politik Negara Turki adalah ‘sahabat’ bagi menguasai blok Turki, Mesir untuk kuasai Dunia Arab, Indonesia untuk kuasai Dunia Melayu dan Pakistan untuk Dunia Indo-Pak. Demokrasi hanya diizinkan selagi mana ‘boneka’ mereka yang menang. Ini lah yang berlaku kepada HAMAS di Palestin yang mana kemenangannya dinafikan walaupun menang besar dalam pentas demokrasi. Begitu juga di Algeria, Tunisia dan lain-lain.
7. Di segi pemikiran pula, mereka ‘mencipta’ intelektual boneka mereka sendiri yang ditaja dan didokong dengandana yang banyak. Inteletual boneka inilah yang berbicara mengenai Islam sedangkan intelektual yang benar-benar berilmu dikesampingkan. Malah ada yang dituduh sebagai ekstremis sebagaimana yang berlaku kepada Sheikh Yusuf al-Qaradawi seorang ulama yang terkenal di dunia Islam. 8. Di segi budaya pula, media massa digunakan sepenuhnya untuk menyebar faham hedonisme iaitu faham yang mengagongkan hawa nafsu. Budaya hiburan rendah dipaksakan kepada umat agar mereka leka dan lalai terhadap tanggung jawab terhadap bangsa, agama dan Negara.
9. Akibat dari strategi ‘Soft war’ ini, maka umat menjadi lemah dan berpecah belah. Pemimpin yang lemah memimpin Negara dan rakyat pula sudah hilang semangat ‘asabiyyah’ iaitu semangat kekitaan dan cinta kepada bangsa dan Negara.
10. Ibnu Khaldun (1332 – 1406), seorang sejarawan Islam terkenal mengatakan bahawa sebaik saja semangat asabiyyah sesuatu bangsa itu sudah luntur, maka akan hancurlah bangsa tersebut dikuasai oleh bangsa yang utuh semangat asabiyyahnya. 11. Pengajaran yang penting kepada umat Islam ialah untuk membina kekuatan dalaman umat dengan ajaran Islam yang berpandukan kepada al-Quran dan Sunnah Nabinya. Sebuah Negara yang kuat amat bergantung kepada empat kekuatan sebagaimana yang dinukilkan oleh para pemimpin Andalusia yang menguasai Sepanyol selama lebih 6 abad : ‘Justice of the Great' - Keadilan pemimpin yang hebat ‘Wisdom of the Wise '– Hikmah ulama yang bijaksana ‘Valor of the Brave '- Keberanian sang pejuang ‘Prayer of the Righteous '– Doa orang yang saleh 12. Semangat asabiyyah juga harus diperkasakan. Asas semangat asabiyyah ialah keutuhan bahasa, budaya dan agama.
13. Masyarakat yang utuh ialah masyarakat yang tinggi kerohaniannya. Dalam hal ini masjid mesti menjadi penjana terpenting ke arah pembinaan tamadun khayra ummah.
14. Golongan ulama dan intelektual harus diberi tempat yang sewajarnya di dalam pemerintahan Negara agar ilmunya dapat dimanfaatkan untuk pemerintahan yang menepati konsep ‘Baldatun taybatun wa rabbun Ghafur’
Dibentangkan di Seminar Pembinaan Sakhsiah dan Penyatuan Ummah Dewan Sekolah Agama Rakyat Bandar Springhill Lukut pada 16 Ogos 2009
(Ruangan santai memaparkan pelbagai peristiwa yang menarik ketika bermusafir di bumi Allah ini)
PENAMPILAN PETRONAS HARUS LEBIH AGRESIF DI SUDAN!
Bulan Julai lalu saya melawat Khartoum dalam rangka mengerat silaturrahim dengan NGO-NGO di Sudan. Ini sebahagian dari kerja saya sebagai Pengerusi, Suruhanjaya Sosial, Kemanusiaan dan Solidariti, Union of NGOs of the Islamic World (UNIW) yang beribupejabat di Istanbul, Turki.
Bandar Khartoum sudah banyak berubah. Ternyata, hasil minyak Sudan telah digunakan sebaiknya untuk membangun infra struktur Sudan yang sebelum ini amat jauh ketinggalan. Baru dua tahun saya tidak ke sini, perubahan yang berlaku amat ketara sekali. Jalanraya dan bangunan baru tersergam indah. Kalau dulu, debu berterbangan sudah begitu lumrah. Tapi kali ini, keadaan sudah jauh begitu baik.
PETRONAS banyak memainkan peranan di dalam industri minyak di Sudan. Namun Negara China nampak lebih agresif di dalam menampakkan kehadirannya di Sudan. Beberapa jambatan telah dibina merentasi Sungai Nil. Begitu juga beberapa bangunan yang pentingdibina sebagai hadiah daripada Kerajaan China kepada Sudan. Kesannya saya dapati, rakyat Negara China diberikan layanan begitu istimewa oleh Kerajaan Sudan.
Adapun kehadiran PETRONAS, selain bangunan ibupejabat yang tersergam indah, selainnya tidaklah begitu ketara. Apabila saya tanyakan salah seorang pegawai tinggi PETRONAS yang baru pulang beraya baru ni, katanya sumbangan PETRONAS adalah disegi pembangunan sumber manusia iaitu memberi biasiswa pendidikan kepada pelajar Sudan yang belajar di Malaysia, perpustakaan bergerak dan bantuan membaiki sekolah serta yang berkaitan dengan pendidikan.
Namun, pada fikiran saya, perlu ada juga beberapa projek fizikal yang perlu di buat untuk menampakkan kepada rakyat akan sumbangan PETRONAS kepada pembangunan Sudan. “Public Perception” kadang-kadang banyak membantu ketika berlaku krisis. Alangkah baiknya PETRONAS membuat kompleks pendidikan sebagaimana Maktab Rendah Sains MARA di beberapa lokasi strategikterutama di wilayah penggalian minyak di Selatan Sudan. Mungkin Munazzamat Dakwah atau mana-mana badan seumpamanya boleh dilibatkan. Ini hanya lontaran fikiran saja. Mungkin PETRONAS dah ada strategi jangka panjang yang saya tak tahu. Apa yang penting, rakyat Sudan nampak dan merasai akan sumbangan hasil minyak PETRONAS dikembalikan kepada mereka. Dalam hal ini Negara China nampaknya lebih ke hadapan.
Program diatur dengan begitu padat sekali. Banyak pertemuan di buat sampai larut malam. Kedutaan Malaysia dan kawan-kawan di PETRONAS langsung tak dapat dihubungi.Begitulah layanan orang Sudan yang terkenal dengan memuliakan tetamu. Penghormatan mereka kepada Malaysia amat tinggi. Rata-ratanya pemimpin NGO yang di temui, ingin menjadikan Malaysia sebagai model pembangunan mereka.
MAKAN MALAM DI RESTORAN CANVORE
Pada malam terakhir saya di Khartoum, saya di bawa untuk makan malam di Canvore Restaurant, sebuahrangkaian restoran milik usahawan Kenya. Restoran ini terletak di pinggir Sungai Nil dan berhadapan Kompleks PETRONAS yang menempatkan ibupejabat dan kediaman pegawainya. Kompleks yang tersergam indah, apalagi jika dilihat pada waktu malam.
BENDERA DI JATUHKAN TANDA DAH KENYANG ATAU TAK MAHU HIDANGAN YANG DI SAJI
Restoran ini sangat terkenal dikalangan para pelancong asing kerana menyediakan semua jenis daging yang di panggang secara tradisional. Semua jenis daging akan di panggang, kemudian dihidangkan secara ‘course by course’ bersama dengan nasi dan sos pelbagai rasa. Sebelum hidangan disediakan, pelayan mengalu-alukan kehadiran kami dan setiap orang diberikan sebuah bendera dan set nasi serta sos pelbagai rasa. Pelayan tersebut menyatakan bahawa setiap jenis daging akan di bakar satu demi satu, dan beliau akan memaklumkan daging apa yang sedang dihidangkan. Hidangan akan diberikan satu demi satu tanpa henti sehinggalah bila pengunjung sudah kenyang.Apabila sudah kenyang, para pengunjung harus memberi isyarat berhenti dengan menjatuhkan bendera di atas meja. Bila ini dilihat oleh para pelayan, maka hidangan akan diberhentikan. Atau jika ada mana-mana hidangan daging yang tidak di sukai, para pengunjung boleh juga memberi isyarat dengan menjatuhkan bendera di meja.
Sebaik saja selesai penerangan tersebut, maka mulailah sajian pertama . Pelayan memaklumkan, ‘Our first serving is chicken, please enjoy your meal‘ Maka kami pun mulailah makan ayam yang dibakar bersama dengan sos dan nasi. Bila habis saja, sajian pertama, maka pelayan akan membawa sajian seterusnya dari daging lembu, rusa, biri-biri, unta, burung unta atau ‘ostrich’. Setiap kali bila sajian di hidangkan, pelayan akan mengingatkan, ‘if you wish to stop or do not like the serving, kindly tell us by putting down your flag! ‘
NYARIS MAKAN DAGING BUAYA !
Rombongan kami setakat ini, nampaknya tiada yang menunjukkan tanda-tanda nak berhenti. Ya, makanan daging panggang ni memang sedap dan menyelerakan. Bagi saya daging unta dan ‘ostrich’adalah yang istimewa bagi saya pada malam tu. Kemudian, bila sajian seterusnya datang, bila pelayan memaklumkan, Please enjoy the next serving, crocodile meat’, saya hampir melompat! Terkejut! Apa? ada daging buaya? Halal ke? Itulah reaksi spontan saya ketika itu.
Sekejap itu juga saya terus menjatuhkan bendera di hadapan saya sebagai tanda tak mahu. Saya tanyakan kepada pegawai dari Sudan, Muhammad al- Fateh, boleh makan buaya ke? Dia menjawab , Mazhab kami membolehkan makan buaya. Sambil melahap daging buaya, dia mengatakan, ’it looks like chicken, but taste like fish’. Aduuuuh! loya tekak saya dibuatnya. Selera terus hilang. Bendera dah tak naik lagi !
Balik di Malaysia, saya tanyakan mengenai hal makan buaya kepada Professor Sudan yang mengajar di Universiti Islam Antarabangsa. Katanya, makan buaya tu adalah amalan terutama orang Sudan yang tinggal di Selatan Sudan. Umumnya orang Sudan dah tak makan buaya walaupun mungkin ada ulama yang menafsirkan sebaliknya.
Bila saya ceritakan pengalaman ini kepada seorang pegawai PETRONAS di Sudan yang balik beraya di Malaysia baru-baru ini, dia begitu terkejut. Katanya, `Cik Azam, kami di PETRONAS tak pergi makan di RestoranCanvoretu!'
Terkejut di buatnya apabila dimaklumkan bahawa Dato Rahim Bakar telah kembali ke rahmatuLlah pada 24 September yang lalu ketika menunggu saat untuk berbuka puasa sunat enam Syawal di rumahnya di Jalan U Thant.
Dalam kesibukan berziarah di Utara, dari Perlis sampai ke Perak bertemu dengan keluarga sebelah isteri, langsung tak sempat menatap akhbar atau menonton television. Hanya dah sampai Kuala Lumpur, ketika acara Ziarah Hari Raya WADAH, baru berita itu sampai kepada saya. Terkejut, memang terkejut kerana Dato Rahim terlibat secara langsung dalam dua program besar dengan ABIM ketika saya menjadi Presiden ABIM dulu. Melalui dua program ini, saya mengenali beliau secara dekat dan memahami cara kerjanya dan cara fikirnya.
BERSAMA MENGANJUR SYARAHAN PERDANA
Program pertama ialah ketika bersama menganjurkan Syarahan Perdana mengenai Palestin dan Kemanusiaan anjuran Dewan Bahasa & Pustaka dan ABIM pada 8 Mei 2002. Program ini yang mempertemukan Dr.Mahathir dan Ustaz Fadzil Noor adalah suatu peristiwa penting dalam sejarah politik Negara kita. Ianya mendapat liputan secara langsung oleh RTM.
Beberapa bulan sebelumnya, saya bertemu dengan Dato Rahim, ketika itu adalah Pengerusi Dewan Bahasa & Pustaka untuk mengajak Dewan turut sama menganjurkan program ini yang tujuan utamanya ialah untuk membuka jalan bagi dialog dan Muzakarah antara UMNO dan PAS. Suhu politik ketika itu sangat panas, dan saya memikirkan perlu ada sesuatu usaha yang mempunyai impak yang besar bagi memulakan usaha perpaduan orang Melayu. Saya nyatakan pandangan dan hasrat ini kepada beliau.
Impak yang besar perlu melibatkan Presdiden UMNO dan Presiden PAS. Saya nyatakan bahawa saya telah sempat bertemu dengan Dr.Mahathir dan Ustaz Fadzil Noor berbincang mengenai hal ini, dan nampaknya tiada halangan besar dari kedua pihak. Cuma ABIM perlukan sebuah Badan Kerajaan untuk menjadi penganjur bersama bagi memastikan kejayaan program sebesar ini.
Apa yang membanggakan saya ialah respon beliau yang sangat positif dan begitu bersemangat sekali dengan ide ini. Beliau lantas bersetuju tanpa tangguh-tangguh lagi. Memang beliau adalah seorang yang ‘action-oriented’ dan seorang yang tidak takut denga risiko apabila sudah membuat keputusan.
Dalam masa yang relatif singkat, kami bertungkus lumus mengatur strategi bagi menjayakan program yang julung kali diadakan seumpama ini. Kami ke Alor Setar bertemu Ustaz Fadzil Noor, ke PutraJaya bertemu Pak Lah, ketika itu Timbalan Perdana Menteri bagi memastikan setiap perancangan dapat diatur dengan teliti. Dato Rahim menggerakkan seluruh jentera DBP bagi tujuan murni ini.
Alhamdulillah, Majlis Syarahan tersebut berjalan lancar dan mendapat liputan semua akhbar utama dengankehadiran hampir kesemua pemimpin utamaUMNO dan PAS. Saya begitu terharu kerana dapat merasakan ‘mood’ pada malam itu sangat positif kearah perpaduan bangsa. Saya dan Dato Rahim merupakan orang yang paling gembira pada malam itu. Kami saling mengucapkan tahniah antara satu sama lain dengan senyum yang melebar. Kami bersyukur kerana semuanya berjalan lancar sebagaimana yang dirancang.
PROGRAM ANAK YATIM BANDA ACEH DAN SIGLI
Program yang kedua bersama beliau ialah ketika Tsunami melanda Aceh pada Disember 2004, Dato ketika itu merupakan Pengerusi Pusat Pungutan Zakat Wilayah Persekutuan telah bersetuju untuk bekerjasama dengan ABIM bagi membantu dua Dayah (Kalau di Tanah Jawa di panggil Pesantren,di Tanah Melayu di panggil Pondok)anak yatim iaitu satu di Lampeuh Beut, Banda Aceh dan satu lagi di Sigli, hampir duajam perjalanan dari Banda Aceh. PPZ bersetuju membantu dengan dana berjumlah RM1.2 juta untuk membaiki bangunan, membayar gaji guru dan makan minum para pelajar. Dato Rahim sendiri pergi ke Aceh untuk melihat suasana sebenar pelajar di kedua Dayah tersebut. Kita harus ingat bahawa ketika beliau di sana, Aceh masih lagi belum pulih sepenuhnya dengan serba-serbi kekurangan.
Memang beliau amat teliti tentang penggunaan dana. Beliau sentiasa mengingatkan bahawa dana ini adalah amanah umat yang mesti digunakan dengan penuh bertanggungjawab, telus dan beramanah.
Saya banyak belajar darinya mengenai amanah dan tanggungjawab. Beliau banyak mengkritik para pemimpin yang korup tanpa berselindung dan takut-takut atau bimbang ada orang akan menyampaikan pandangan atau kritikannya.
PEJUANG BANGSA DAN BAHASA
Pengalaman bersamanya walaupun tidak lama, tetapi cukup untuk saya katakan bahawa beliau seorang pemimpin berjiwa rakyat dalam ertikata yang sebenarnya. Beliauseorang yang tegas dan tidak takut untuk mempertahankan kebenaran hatta terpaksa menentang perintah Sultan yang pada pandangannya merugikan kepentingan rakyat. Beliau sanggup menanggung risiko kerana pendiriannya. Sejarah politiknya sebagai Menteri Besar hanya bertahan selama 3 tahun4 bulan kerana enggan menurut perintah Sultan untuk menambah konsesi balak yang mana kuotanya telah digunapakai seluruhnya.
Walaupun beliau hanya sempat memerintah sebagai Menteri Besar dari Julai 19, 1978 sehingga Nov.7,1981, pemerintahannya tetap dikenang oleh rakyat.
Sebagai pejuang bahasa, beliau adalah antara yang menentang keras pelaksanaan Pengajaran Pelajaran Sains danMatematikdalam Bahasa Inggeris (PPSMI) yang di ilhamkan oleh Dr.Mahathir ketika menjadi Perdana Menteri. Akibatnya, jawatan beliau sebagai Pengerusi Lembaga Pengarah Dewan Bahasa dan Pustaka tidak disambung lagi.
Begitu juga ketika beliau menjadi Pengerusi Pusat Pungutan Zakat Wilayah Persekutuan, beliau telah berjaya mengubah caragaya pengurusan PPZ kepada pengurusan korporat. Beliau agak agresif didalam meningkatkan prestasi PPZ sehingga menjadi agensi pungutan Zakat yang paling banyak membuat kutipan zakat di seluruh Negara.Model PPZ telah menjadi ikutan oleh negeri lain.
Apa yang pasti, kalau demi agama, bangsa dan Negara, beliau tidak akan teragak-agak untuk bertindak walau terpaksa menanggung risiko apa jua sekalipun. Itulah yang saya dapat hasil dari pengalaman singkat dengan beliau.AL FATIHAH semoga rohnya sentiasa berada dikalangan kekasih Allah ta’ala jua.
The Global Peace Mission (GPM) vehemently condemns the action of the Egyptian police in arresting and subjecting a relief worker, dedicated to humanitarian work in the Gaza, to intense pressure through detention, interrogation, intimidation and privation. The victim is none other than Azlan Muhammad Sharif (Director, Relief & Humanitarian Aids, GPM), who led and coordinated three teams from Malaysia to Gaza. On 2 September 2009 Azlan was detained (for 3 days three nights) and deprived of food and drink, severely beaten and punished, and disallowed to communicate with anyone outside the prison walls.
2. Azlan was subjected to extreme humiliation and hard interrogation tactics, allegedly carried out with the tacit knowledge and cooperation of the CIA and Mossad.
3. The GPM draws attention to the fact that the detainee had in his possession valid documents to prove that he was a bona fide relief worker from a friendly Muslim country that is dedicated to bringing relief and humanitarian assistance to the dispossessed Palestinians in the Gaza area. Being the closest territory available for relief workers seeking entry into the Gaza, his transit in Egypt is not unexpected.
4. It is most strange that Egypt should want to impose such informal and indirect sanctions against a neighbouring state, given her historical ties to a people who, just about 42 years ago, constituted an integral part of its own territory. Today, that territory is under constant bombardment by hostile forces aided and abetted by the superpowers of the West who seek to enhance their geo-political interests in the region. The least that such a powerful and comfortably settled neighbour as Egypt could be expected to do is to merely accommodate and provide passage to those endeavouring to bring humanitarian assistance to the 1.4 million people who have been forced to live in the world’s biggest prison environed and encircled by hostile forces, and totally deprived of the most basic of necessities like food, shelter and medicine.
5. The pathetic scenario in Gaza is that of children pleading for food and hungering for basic education, the sick deprived of medicine and health care, a whole population living on handouts, an economy that struggles to keep the people alive, infrastructures that have been annihilated in wars; and the cream of the nation, her youth and best talents, that are wasting away in vain by the wayside.
6. The relief workers from Malaysia have no aim other than to address these problems that cry for help. They bring nothing with them that can be said to be dangerous. The only arms that they have brought along are alms to be distributed among Palestinian residents in Gaza.
7. Instead of being of help, Egypt has decided to impose privations on these valiant volunteers, and chosen to collaborate with the oppressors.
8. The Global Peace Mission is certainly not an isolated entity that operates in its own right. It is a legitimate vehicle through which the Malaysian government as well as donor institutions and concerned individuals (who look beyond the racial and religious divide), channel their contributions for the benefit of the Gaza residents.
9. In the face of the unfortunate and unwarranted incident that has occurred to Azlan, a dedicated relief worker, we, the Global Peace Mission, hereby demand an explanation for the gross indignities perpetrated against him.
10. We hope that this blatant act of ignominy will not be repeated in any form, to any individual or organization (from any part of the world) – Muslim or otherwise - who come forward to offer help to victims of a regime that has clearly shown to have no regard or sense of pity for human suffering.
Najib mewarisi perjuangan bapa 1. Negara telah menempa detik yang bersejarah. Bersejarah kerana buat pertama kali anak seorang mantan Perdana Menteri mewarisi kepimpinan negara. Apakah ini akan menjadi suatu kecenderungan baru dalam politik Malaysia yang mana kepemimpinan politik negara dimonopoli oleh beberapa keluarga yang berpengaruh seperti keluarga Gandhi di India dan Bhutto di Pakistan? Atau ini hanya suatu kebetulan atas usaha gigih sendiri. Kita lihatlah perkembangannya nanti.
Krisis politik berpunca dengan pemecatan Anwar Ibrahim
2. Kita semua maklum bahawa krisis politik dalam negara ini berpunca dari pemecatan Anwar Ibrahim sebagai Timbalan Perdana Menteri dan Timbalan Presiden UMNO oleh Dr.Mahathir pada 2 September 1998. Ya, sudah lebih 10 tahun berlalu, politik negara umpama dibadai ombak besar. Usaha untuk membunuh kredibiliti Anwar dengan pelbagai cara ternyata gagal walaupun seluruh jentera kerajaan digunakan sepenuhnya. Dr.Mahathir akhirnya berundur, Pak Lah pun berundur juga. Anwar Ibrahim menjadi Ketua Pembangkang yang sangat digeruni apalagi di pentas rakyat. Masyarakat Cina, India, Kadazan kesemuanya melihat Anwar sebagai pemimpin yang berjiwa rakyat dan boleh menjadi Perdana Menteri yang lebih baik dan adil kepada semua. Ini pandangan akar umbi yang sentiasa dinafikan oleh media perdana. Bagi media perdana, skripnya ialah Anwar Ibrahim pengkhianat negara dan boneka Barat yang harus ditentang habis-habisan demi masa depan negara dan survival orang Melayu.
Orang Melayu bimbang
3. Sempena hari bersejarah ini, pasti Najib mempunyai formula sendiri untuk menangani isu politik Melayu yang sangat gawat melebihi satu dasawarsa ini. Kebimbangan orang Melayu akan keterhakisan kuasa politik semakin ketara dan kuasa ekonomi yang semakin mengecil adalah suatu yang ‘real’. Ianya bukan digembar-gemburkan untuk tujuan tertentu. Suara-suara mengajak Parti Politik Melayu untuk bersatu semakin kuat kedengaran. Perbincangan sulit dan tertutup memang berlaku. Seminar dan Simposium pun dah banyak yang dianjur oleh NGO Melayu yang mulai tumbuh bak cendawan. Kesemuanya menyatakan kebimbangan yang amat sangat.
4. Malah ketika ada saja pertemuan antara pemimpin poltik Melayu, maka isu perpaduan Melayu sentiasa menyusul sebagai bahan perbincangan di kedai kopi. Pertemuan Pak Lah dan Anwar di Hulu Langat atas jemputan Ustaz Mahmud kerana Majlis Tamat Latihan Kerohanian selama 40 tahun juga menjadi perbualan hangat . Malangnya Pak Lah di penghujung riwayatnya sebagai Perdana Menteri. Tiada apa lagi yang dapat dilakukannya.
Pilihan Najib hanya satu
5.Najib sebenarnya hanya ada satu pilihan saja. Sebagai PM baru beliau mempunyai banyak ‘advantage’ untuk melakukan sesuatu yang drastik dan bermakna. Sebagai Perdana Menteri baru, rakyat akan mengambil sikap memberi peluang dan ruang dulu. Sikap tunggu dan lihat inilah memberi beliau sedikit ruang untuk bernafas bagi memikir dan bertindak.
Ikut Legasi Tun Razak
6. Pilihan yang ada bagi beliau ialah untuk menjejaki legasi bapanya, Allahyarham Tun Razak. Selepas berlakunya Peristiwa 13 Mei 1969 yang menumpahkan darah akibat krisis politik perkauman, Tun Razak telah mengambil strategi kurangkan politiking bagi membolehkan tumpuan diberikan kepada pembangunan ekonomi dan negara. Jika kita lihat apa yang berlaku sekarang, krisis ekonomi dunia yang melanda menuntut pemimpin, rakyat dan negara untuk memberi keutamaan kepada strategi pemulihan ekonomi. Isu politik harus diselesaikan dengan cara yang matang sesegera yang mungkin.
7. Kita kena akui bahawa Datuk Seri Anwar Ibrahim adalah faktor penting didalam sebarang usaha untuk memulihkan kekusutan politik yang berlaku sejak 10 tahun yang sudah. Hakikatnya kita telah mengambil masa yang terlalu lama untuk menyelesaikannya. Cara membunuh kredibiliti Anwar melalui perundangan dan fitnah ternyata telah ditolak oleh rakyat. Keputusan Pilihanraya Umum ke 12 membuktikannya. Isu Anwar adalah cetusan Dr.Mahathir, bukan Najib. Beliau tidak mempunyai sebarang ‘political baggage’. Pak Lah sebenarnya mempunyai peluang untuk melakukannya, cuma malangnya beliau dibayangi oleh Dr.Mahathir.
8. Anwar Ibrahim harus diterima sebagai entiti politik yang harus dihormati. Pengalaman beliau di dalam kerajaan banyak boleh dimanafaatkan. Menuduh beliau sebagai pengkhianat negara, boneka asing ternyata tidak berfaedah dan tidak dapat diterima oleh rakyat. Biro Tata Negara sudah 10 tahun menjaja isu ini. Hakikatnya, Anwar Ibrahim semakin popular dan masyarakat Cina dan India umumnya melihat beliau sebagai pemimpin mereka sendiri.
Tubuh Kerajaan Perpaduan Nasional Raya
9. Ide menubuhkan ‘Grand National Unity Government’ telah dilontarkan oleh beberapa pihak yang prihatin mengenai krisis politik yang berpanjangan ini. Malah Yang Berhormat Ustaz Abdul Hadi Awang difahamkan begitu berminat dengan ide ini. Bayangkan sekiranya Barisan Nasional dan Pakatan Rakyat bersetuju menubuhkan kerajaan campuran, maka rasanya krisis politik yang berlaku sekarang boleh diredakan. Tumpuan boleh diberikan kepada menangani krisis ekonomi yang melanda.
10. Cuma apa yang diperlukan ialah pemimpin yang berjiwa besar, yang sanggup mengorbankan kepentingan peribadi demi bangsa dan negara tercinta. Tun Razak dikenang sampai sekarang kerana jiwa besarnya menjemput PAS menyertai kerajaan Barisan Nasional. Legasi ini begitu berharga dan harus diteladani. Sekira anaknya pula mengikut jejak langkah ini, rasanya semua pihak akan berbangga dan pastinya gembira. Sepuluh tahun yang gawat akhirnya berpenghujung jua.
11. Bagi setengah pemimpin PAS yang pernah berpengalaman berada dalam kerajaan campuran dulu kemudian ditendang keluar oleh UMNO, pastinya pengalaman tersebut amat pahit untuk dijadikan pengajaran. Kita amat mengerti akan perasaan pesimis tersebut. Namun demikian apa pilihan kita? Generasi sudah berubah! Minda mereka juga telah banyak berubah. Apakah kita nak berterusan mengadu tenaga sampai Pilihanraya Umum ke 13? Rasanya kita kena meraikan juga faktor perubahan generasi di dalam apa jua percaturan politik kita. Malah komen Tuan Guru Nik Abdul Aziz yang mengharapkan hubungan baik antara kerajaan Persekutuan dan kerajaan negeri ketika Datuk Najib diumumkan sebagai Perdana Menteri adalah merupakan petanda baik kearah merealisasikan ide ini.
11. Terpulanglah kepada Datuk Najib untuk bertindak. Dayung ditangan anda! Peluang datang hanya sekali! Saya mendoakan kebaikan jua untuk agama, bangsa dan negara.
Naib Presiden Wadah Pencerdasan Umat Malaysia (WADAH), Pengerusi Future Global Network Foundation (FGN) dan Ahli Jawatankuasa Kanan dalam International Movement for a Just World (JUST), dan ahli Transparency International Malaysia. Pada bulan Disember 2007, beliau telah dilantik sebagai Pengerusi kepada Commission for Social, Humanitarian and Solidarity Union of NGO’s of The Islamic World (UNIW). Presiden ABIM ke-5 (1997-2005)